BIAS: Your Name Engraved Herein (2020)
Courtesy of Sony Pictures, Netflix © 2020
Halo semuanya! selamat datang di segmen baru kami BIAS aka Bioskop Asik, kali ini aku mau ngebahas suatu film yang cukup menarik nih dari segi alur ceritanya, yaitu "Your Name Engraved Herein" (2020). Disutradarai Patrick Kuang-Hui Liu, film ini menceritakan tentang perjalanan cinta antara dua orang pria di tengah lingkungan yang masih konservatif pada tahun 1980-an di Taiwan. Sebelum kita lanjut aku mau kasih tahu kalau review ini mengandung spoiler, jadi bagi kalian yang mau nonton filmnya terlebih dahulu silahkan dan bagi yang sudah nonton bisa lanjut membaca review ini. okey lanjut!
Alur pada film ini menggunakan alur maju mundur yang memperlihatkan momen-momen penting dari kisah Jia-Han, lalu nantinya akan kembali dengan sesi konselingnya bersama Father Oliver (Fabrio Grangeon). Saya menikmati bagaimana kisah tahap awal yang memperlihatkan pembangunan hubungan dari dua karakter yang cukup kontras, si normal dan si gila, baik dari latar agama mereka yang berbeda, ataupun ketika mereka mulai menyadari untuk menutupi identitas mereka.
Mulai dari masalah LGBT yang masih sangat tabu, lalu bagaimana aksi kekerasan pada siswa yang dicap penyuka sesama jenis, Belum lagi, ditambah upaya sekolah yang memulai menerima murid siswi, serta upaya mereka dalam menghalangi nafsu pubertas pada siswa. Kesetaraan gender juga menjadi isu lain pada film ini. Ini terlihat dari bagaimana ketidakadilan perlakuan sekolah dalam memberi hukuman kepada siswi perempuan. Terlebih lagi film ini didasarkan pada kisah nyata.
Courtesy of Sony Pictures, Netflix © 2020
Edward Chen dan Jing-Hua Tseng, yang memerankan Jia-han dan Birdy, memberikan penampilan yang luar biasa dan juga cukup mendalam. Pendalaman emosi dan konflik internal karakter, mereka bawakan ke layar dengan sangat baik, sehingga aku sendiri pun sebagai penonton juga ikut ngerasain keintiman dalam hubungan mereka. Bagi aku sendiri "Your Name Engraved Herein" bukan sekedar film romance biasa, tetapi juga tentang bagaimana mencintai seseorang dengan sangat tulus tanpa mengenal batasan. Film ini memberikan pandangan sangat realistis terhadap bagaimana kebesaran cinta bisa menjadi kekuatan, meskipun dihadapkan dengan norma-norma yang ada di masyarakat.
(Penulis: Emillyo Novriansyah Pramana. Editor: Rafy Syahputra Soeleiman.)



Komentar
Posting Komentar